Makna Kritis di Balik Lagu Daerah Gundul-gundul Pacul

Sebagai bentuk kecintaan terhadap Indonesia, yukpiknik.com membuat sebuah kanal khusus yang berisi semua hal yang berhubungan dengan Indonesia. Mulai dari kebudayaan, seni, etnis dan beragam ke-Bhinneka-an yang ada di di tanah air. Kanal ini kami beri nama “Indonesia Banget”

Kanal “Indonesia Banget” akan kami update secara berkala. Bagian pertama “Indonesia Banget” akan kami isi dengan sebuah pembahasan mengenai makna dibalik daerah Gundul-gundul Pacul yang ternyata sangat dalam dan masih sangat relevan untuk masa sekarang dan masa-masa yang akan datang

Lagu Gundul-gundul Pacul sendiri merupakan lagu daerah yang berasal dari Jawa. Mereka yang tinggal di Jawa Tengah, Jogja Jawa Timur pasti sangatlah familiar denga lagu ini. Gundul-gundul Pacul biasanya diajarkan di usia SD. Lagu ini sendiri diciptakan oleh R.C. Hardjosubroto yakni seorang komposer karawitan di era 1950 sampai 1970. Namun, beberapa sumber menyebutkan bahwa lagu ini diciptakan oleh Sunan Kalijaga pada abad ke-14

Yang jelas, lagu ini memiliki sebuah makna yang ternyata sangat kritis. Lagu ini merupakan sebuah peringatan (mungkin juga sindiran) untuk para pemimpin yang berkuasa. Untuk lebih jelasnya, mari kita bahas lirik demi lirik lagu ini

Gundul gundul pacul cul
gembelengan
Nyunggi nyunggi wakul kul
gembelengan
Wakul ngglimpang segane dadi sak latar
Wakul ngglimpang segane dadi sak latar

 

Gundul, sebagaimana kita tahu merupakan sebutan lain untuk botak. Kata ini berasal dari Bahasa Jawa untuk menggambarkan kondisi kepala yang tanpa ramput. Kepala sendiri merupakan sebuah simbol kehormatan bagi seseorang. Sedangkan rambut, sebagaimana kita tahu, merupakan mahkota kepala yang membuat kepala menjadi lebih indah. Kata gundul dalam lagu ini memiliki makna sebuah kehormatan tanpa mahkota

Pacul atau cangkul merupakan alat pertanian yang sangat identik dengan petani tradisional. Orang Jawa sendiri memiliki filosofi sendiri tentang pacul. Pacul merupakan kependekan dari papat kang ucul atau empat yang lepas. Kata empat disini diambil dari bentuk pacul aka cangkul yang berbentuk segi empat. Menurut filosofi pacul, kemuliaan seseorang itu bisa dilihat dari empat hal yakni mata, telinga, hidung dan mulut yang digunakan untuk kebaikan. Dalam konteks lagu Gundul-gundul Pacul, seorang pemimpin seharusnya menggunakan mata untuk melihat kesulitan rakyat, hidung untuk mencium orama kebaikan, telinga untuk mendengar nasihat dan mulut untuk mengucapkan kata-kata adil

tenun-lamalera

Foto: http://destinasian.co.id/

Pada intinya, seorang pemimpian seharusnya bukanlah seseorang yang diberi mahkota. Seharusnya ia membawa cangkul untuk mengupayakan kesejahteraan rakyat. Namun pada kenyataannya, banyak pemimpian yang justru memiliki sikap sebaliknya. Mereka begitu haus kehormatan dan kekuasaan hingga menimbulkan sikap angkuh dan sombong. Ini digambarkan dengan kata “gembelengan”

Bagian kedua lagu ini diawali dengan frase “nyunggi wakul” yang jika artinya adalah membawa bakul (tempat nasi) di atas kepala. Bakul disimbolkan sebagai kesejahteraan rakyat. Seorang pemimpin seharusnya memang bertanggung jawab membawa kesejahteraan bagi rakyat. Lebih lanjut lagi, kata “nyunggi wakul” disini juga menyimbolkan bahwa kedudukan pemimpin itu sebenarnya berada di bawah rakyat. Pemimpian bertugas membawa wakul di atas kepalanya, sedangkan wakul sendiri dimiliki oleh rakyat

Tapi, sekali lagi, banyak pemimpin yang justru lalai dengan amanah yang mereka emban dan justru memiliki sifat angkuh, keras kepala dam sombong. Gembelengan. Hingga akhirnya wakul yang mereka bawa terguling dan jatuh berantakan, nasinya tercecer kemana-mana. Wakul ngglimpang segane dadi sak latar. Bakul terguling, nasinya tumpah kemana-mana

Kesimpulannya, lagu ini mengingatkan para pemimpian untuk senantiasa menggunakan empat dari anggota panca indranya yakni telinga, mata, mulut (lidah) serta hidung untuk kebaikan demi kesejahteraan rakyat. Pemimpin yang tidak menggunakan keempat indra tersebut untuk kebaikan akan mengakibatkan sikap sombong yang pada akhirnya akan merugikan rakyat. Lagu ini juga mengingatkan para pemimpin bahwa mereka membawa beban yang sangat berat di kepalanya yakni kesejahteraan rakyat. Pemimpin yang lupa dengan amanah ini dan bersikap angkuh akan membuat rakyat menjadi menderita

 

Featured image

The following two tabs change content below.
Sarjana teknik informatika yang tidak bisa coding. Suka naik gunung, membaca dan menulis

Leave a Reply