Benarkan Mendaki Gunung Bisa Mendekatkan Diri Kepada Tuhan?

Mendaki gunung kini menjadi salah satu kegiatan yang banyak dilakukan oleh banyak orang. Khususnya generasi millennial. Mereka punya tujuan yang macam-macam yang ujungnya satu: menikmati keindahan alam

Sebelum semeriah sekarang, mendaki gunung hanya dilakukan oleh orang-orang yang memang memiliki minat tinggi dalam dunia petualangan di alam terbuka. Dulu, mendaki gunung merupakan kegiatan yang sakral. Jalur pendakian belum terlalu terbuka, resiko masih sangat tinggi. Tak heran kalau banyak orang yang akhirnya “tobat” setelah mendaki gunung

Ngomong-ngomong soal “tobat”, mungkin ini adalah satu hal efek positif dari mendaki gunung. Tidak sedikit orang yang dulunya nakal kini menjadi lebih baik setelah mendaki gunung. Yang tadinya jarang beribadah menjadi lebih rajin sembahyang

Ya, jika dilakukan dengan niat yang tulus (bukan hanya karna kebutuhan eksistensi di sosial media), mendaki gunung bisa kita jadikan media belajar menempa diri serta mendekatkan diri kepada Tuhan. Ada banyak sekali hal yang membuat kita sadar ketika mendaki gunung, khususnya jika kita baru pertama kali mendaki. Lalu, benarkan mendaki gunung itu bisa membuat kita lebih dekat dengan Tuhan?

Jawabannya sangat relatif. Tergantung dari kepribadian seseorang. Namun — jika kita peka — harusnya ada banyak hal yang membuat kita semakin sadar atas kekuasanNya, yang akan kita temukan saat mendaki gunung. Cobalah renungi beberapa hal berikut

 

Baca juga: 5 Hal Yang Akan Membuatmu Sadar Setelah Melakukan Pendakian Untuk Pertama Kali

 

Rasa lelah yang tak tertahankan, tanda kita adalah makhluk yang lemah

Pernahkan kalian melihat seseorang yang mendaki gunung tanpa istirahat sama sekali?. Sepertinya tidak. Bahkan untuk Gunung Nglanggeran yang tingginya tidak sampai 1.000 mdpl pun kita butuh istirahat. Padahal kita hanya mendaki satu gunung. Sedangkan di planet bumi ada ribuan gunung. Rasa lelah yang kita dapatkan ketika mendaki gunung adalah salah satu tanda bahwa kita adalah makhluk yang sangat lemah di hadapanNya. Gunung hanyalah sebuah titik kecil dari semestaNya yang luas. Dan kita sudah begitu kewalahan hanya untuk melewati titik saja

Bintang yang bertaburan di langit, tanda atas kekuasanNya

Sehebat apapun teknologi yang digunakan untuk membuat bitang buatan di ruangan tertutup, bintang yang ada di langit tetap tak tergantikan. Saat malam dan ketika cuaca sedang cerah, perjalanan mendaki gunung akan ditemani oleh taburan bintang-bintang di angkasa. Saat mendongakkan kepala ke atas, kita sesekali akan melihat bintang jatuh. Menurut ilmu astronomi, kerlip bintang yang kita lihat sekarang sebenarnya adalah pancaran dari benda langit jutaan tahun yang lalu. Artinya, ada jeda jutaan tahun sebelum kita bisa melihat sinar dari sebuah benda langit. Kita tidak bisa melihat sinar benda langit secara real time

Fakta itu menunjukkan bahwa alam semesta memiliki luas yang diluar nalar manusia. Bumi yang kita tinggali ini hanyalah biji sawi di alam semesta (BIJI SAWI). Dan kalian tahu siapa yang menciptakan alam semesta beserta benda-benda langit di atas sana? Tuhan YME

Ketika berada di puncak gunung, cobalah untuk memejamkan mata sejenak

Saat kita menikmati keindahan alam dari puncak gunung, cobalah untuk memejamkan mata sejenak. Tarif nafas secara perlahan dan rasakan hembusan angin yang menerpa wajah. Lalu, bukalah mata secara perlahan. Kemudia kita akan sadar, betapa Tuhan itu memang Maha Kuasa. Sebagai manusia, kita harus senantiasa mawas diri. Manusia tak punya kuasa atas apapun. Dialah yang maha kuasa

The following two tabs change content below.
Sarjana teknik informatika yang tidak bisa coding. Suka naik gunung, membaca dan menulis

Latest posts by Aliko Sunawang (see all)

Leave a Reply