Menuntaskan Rindu di Pulau Lombok

“Ndaq lalo jok lombok, laun side ndeq mele uleq. Ndaq lalo jok lombok, laun side kecanduan”. Penggalan lirik ini merupakan bagian reff dari sebuah lagu milik Endank Soekamti yang berjudul Jangan ke Lombok.

Kalau diterjemahkan ke Bahasa Indonesia artinya kira-kira “jangan pergi ke Lombok, nanti kamu gak mau pulang. Jangan pergi ke Lombok, nanti kamu kecanduan”

Sebagai sebuah band, Endank Soekamti mencoba untuk mengungkapkan ekspresi kekaguman terhadap Lombok melalui sebuah lagu, sesuai kapasitas mereka.

Saya pertama kali ke Lombok pada tahun 2013 selama dua dari. Singkat namun begitu membekas. Kunjungan itu juga memberikan begitu banyak kesan. Pasca kunjungan yang singkat itu saya semakin rajin mencari tahu lebih jauh tentang Lombok. Semakin sering saya membaca segala hal tentang Lombok, rasanya ingin sekali kembali ke sana lagi dengan segera.

Ibarat cerita cinta, saya mungkin sedang jatuh cinta pada pandangan pertama. Jarak yang memisahkan kemudian menciptakan rasa rindu terhadap Pulau Lombok.

Sebuah perahu yang sedang bersandar di Gili Air

Sebuah perahu yang sedang bersandar di Gili Air

Seorang teman pernah bilang bahwa rindu itu seperti dendam, ia harus dituntaskan. Beruntung sekali karna saya masih punya kesempatan untuk mengunjungi Pulau Lombok, menuntaskan rindu yang selama ini terpendam.

Kunjungan kedua ke Pulau Lombok saya lakukan bersama empat orang teman tanggal 19 Oktober lalu. Mereka adalah Angger, Budiman, Rio dan Yusuf. Kami menghabiskan 2 hari satu malam di Pulau Lombok. Saya, Angger, Budiman dan Yusuf berangkat dari Solo via Jogja. Sedangkan Rio menyusul dari Makassar karna dia baru saja ada acara di sana. Kami tidak langsung menuju ke Lombok melainkan mampir ke Bali terlebih dahulu karna ingin menikmati suasana sunset di Pantai Kuta yang terkenal itu. Malamnya baru kita menyebrang menggunakan kapal melalui Pelabuhan Padang Bai.

Dua bule cilik yang saya temui di Gili Air

Dua bule cilik yang saya temui di Gili Air

Seperti kunjungan pertama, saya juga tak punya waktu yang terlalu banyak untuk mengeksplor Lombok. Menurut itinerary yang telah kami susun, kami akan mengunjungi Gili Trawangan serta Pantai Pink. Kota Mataram kami pilih sebagai tempat menginap karna lokasinya yang berada di tengah-tengah sehingga waktu kami akan lebih efesien. Namun bukan berarti kita terpatok pada itinerary karna itu sangat tidak menyenangkan. Apalah artinya perjalanan kalau hanya terpatok pada jadwal. Tak ada bedanya dengan rutinitas harian orang kantoran. Sementara tujuan kita adalah terbebas dari jadwal harian yang membosankan. Menjadi fleksibel adalah seni perjalanan.

Dan benar, itinerary yang telah kami susun akhirnya hanya menjadi semacam formalitas. Kami tidak jadi menginap di Mataram melainkan di Gili Trawangan. Pantai Pink juga kami hapus dari daftar kunjung karna lokasinya yang terlalu jauh. Sebagai gantinya, kami mengunjungi Desa Sade serta Pantai Selong Belanak yang lokasinya relatif lebih dekat dari Mataram.

Seorang ibu sedang merajut kain tenun di Desa Sade

Seorang ibu sedang merajut kain tenun di Desa Sade

Banyak sekali cerita yang terjadi dalam perjalanan singkat kemaren. Baik sebelum berangkat maupun setelah berangkat. Beberapa konflik kecil juga lahir sebagai bumbu perjalanan. Seperti Yusuf yang mandinya kelewat lama yang membuat Rio marah-marah karna takut kesiangan sampai Gili Trawangan. Atau si Angger yang keseringan main Bigo di dalam mobil yang membuat battery iPhone-nya cepat habis, padahal kita membutuhkannya sebagai navigasi melalui aplikasi Waze.

Lombok masih saja seperti dulu. Di mata saya, pulau ini tetap saja indah. Tak banyak yang berubah dengan pulau ini. Kecuali Pantai Selong Belanak yang kini sedikit lebih ramai. Juga sebuah dermaga baru di Pelabuhan Bangsal. Selebihnya, Lombok tetap sama. Pulau ini selalu menyambut siapapun yang datang dengan keindahan bukit-bukit, air laut yang selalu biru serta makanan khas yang enak di lidah. Penduduknya juga ramah. Tak pernah memaksa ketika menawarkan jasa tertentu (misalnya transportasi atau penginapan).

Pantai Selong Belanak, Lombok Tengah

Pantai Selong Belanak, Lombok Tengah

Kami sangat beruntung karna dalam perjalanan menuju Mataram dari Pelabuhan Lembar diantar oleh seorang sopir yang ramah dan total. Ia tetap melayani dengan hati meski kami menawar jasanya dengan sangat rendah. Dari si bapak kami jadi tahu bahwa untuk ke Gili Trawangan sebaiknya kita menggunakan jalur Senggigi daripada Pusuk. Selain lebih cepat, kondisi jalannya juga relatif lebih lancar dan tidak terlalu naik turun. Saya bahkan meminta kartu nama si bapak. Siapa tahu, kapan waktu saya akan ke Lombok lagi melalui Pelabuhan Lembar sehingga saya bisa menggunakan jasa si bapak kembali.

Cerita perjalanan singkat selama dua hari di Lombok kemaren (plus 2 hari di Bali) akan saya ceritakan secara lebih detail dalam beberapa artikel. Supaya lebih mudah dicari, saya akan menggunakan tag #lombokthe2nd.

loading...
The following two tabs change content below.
Sarjana teknik informatika yang tidak bisa coding. Suka naik gunung, membaca dan menulis

Leave a Reply