Menahan Peluh dan Kantuk. Demi Gunung Lawu

Banyak yang bilang kalau Gunung Lawu termasuk salah satu gunung paling mistis di Indonesia. Entah apa dasar stereotip ini. Mereka yang bilang begitu mungkin terlanjur termakan cerita yang menyebar dari mulut ke mulut tentang seorang pendaki yang kebetulan mengalami kejadian tertentu di Gunung Lawu

Atau mungkin karna adanya ritual tahunan setiap malam satu Muharam. Ritual ini biasanya dilakukan oleh orang-orang tertentu yang menganut kepercayaan Kejawen

Saya sendiri termasuk orang yang tidak sepenuhnya percaya tentang stereotip orang-orang yang mengatakan bahwa Gunung Lawu adalah gunung yang mistis. Setidaknya, setelah melakukan pendakian sebanyak dua kali, saya tak pernah menemukan keanehan apapun kecuali bau dupa di sebuah sendang dekat pos bayangan 3

Pendakian kedua saya ke Gunung Lawu terjadi hari Sabtu kemaren (2 April 2016). Saya mendaki bersama Mas Ajik dan ketiga teman lain yang saya temui secara tidak sengaja di jalur pendakian. Mas Ajik ini adalah teman yang saya temui tahun lalu di Warung Mas Agus di base camp Cemoro Sewu, juga dengan tidak sengaja. Memang begitulah salah satu keindahan mendaki gunung, kita akan dengan mudah akrab dengan seseorang yang selanjutnya akan menjadi teman

Saya tak punya ekspektasi apa-apa untuk pendakian kali ini. Boro-boro puncak, sampai di pos 2 saja saya sudah senang. Sudah cukup lama saya tidak mendaki. Saya rindu aroma lembab jalur pendakian, juga rasa lelah dan pegal yang entah kenapa selalu menyenangkan

Ketika di-sms Mas Ajik untuk diajak mendaki, saya hanya melakukan persiapan ala kadarnya. Carrier 60 liter yang saya punya hanya saya isi dengan matras, sleeping bag, biskut, satu botol air mineral 1500 ml, kopi instan, cangkir untuk minum kopi, beberapa potong pakaian ganti serta sebuah ponco. Tidak berat sama sekali. Masih berat beban ibu-ibu yang menggendong bakul berisi nasi dan gorengan yang saya jumpai dalam perjalanan turun

20160403_125616

Makan nasi di pos 2

 

Perjalanan yang berat

Bagi saya, pendakian Gunung Lawu via Cemoro Sewu adalah perjalanan yang berat. Saya memang termasuk orang yang tidak pernah menganggap remeh jalur pendakian, bahkan untuk Gunung Andong sekalipun. Tapi ternyata, jalur Cemoro Sewu lebih berat yang dari saya perkirakan, terutama perjalanan turun. Mulai dari pos 1 sampai pos 5 — yang waktu tempuhnya sekitar 5 jam — kita hanya akan menemui track batu selama perjalanan dengan kemiringan lebih dari 50 derajat (menurut perkiraan saya). Tak ada track tanah liat sama sekali. Bonus (track datar) hanyalah mitos di Gunung Lawu. Saya benar-benar kepayahan. Untunglah, perjalanan malam itu menjadi lebih ringan berkat bintang-bintang yang bertaburan di atas sana

Tuhan begitu baik hati. Langit di atas Gunung Lawu tampak cerah malam itu. Hanya ada sedikit mendung, tak ada kabut sama sekali. Bintang-bintang tampak begitu jelas berkelap-kelip. Beberapa kali saya melihat bintang jauh saat sedang berhenti dan merebahkan badan di jalur pendakian. Indah sekali

Padahal, dalam perjalan ke Cemoro Sewu saya sempat berhenti di terminal Karangpandan karna hujan turun cukup deras. Kabut tebal pun menutupi jalan dari Karangpandan sampai Tawangmangu. Membuat jarak pandang hanya beberapa meter saja. Tapi, Yang Maha Kuasa sepertinya memang sedang baik hati kepada saya malam itu. Saya pun tak lupa bersyukur. Sampai di Cemoro Sewu saya langsung menuju masjid di sebrang jalan untuk sholat isya, sebelum memulai pendakian

Sunrise di pos 4

Sunrise di pos 4

 

Jam 10 malam saya dan Mas Ajik mulai melakukan pendakian. Banyak rencana yang berubah malam itu. Rencananya kami akan mendirikan tenda di pos 3. Tapi ketika sampai di pos 3 kami mendapati pos sudah penuh dengan tenda sehingga kamipun terpaksa melanjutkan perjalanan meski mata sudah terasa amat ngantuk

Dengan peluh yang terus menetes seraya menahan rasa kantuk, kami memaksakan diri untuk melajutkan perjalanan ke pos 4. Mengejar sunrise yang sebentar lagi akan datang. Jam setengah lima kami sudah tiba di pos 4. Kami langsung membongkar carrier. Bukan untuk mendirikan tenda, melainkan untuk menyalakan kompor. Mas Ajik membuat susu jahe yang dilanjutkan dengan memasak mie instan rebus. Sementara saya, setelah sholat subuh, mulai sibuk dengan kegiatan foto-foto sambil menikmati pemandangan sunrise yang pagi itu terlihat begitu indah

Menikmati keindahan sunrise membuat saya lupa waktu. Tahu-tahu sudah pukul 6 pagi. Kepalang tanggung, sayapun melanjutkan perjalanan ke puncak. Sementara Mas Ajik — karna tak kuat menahan kantuk — memilih tidur di pos 4. Hanya berbalutkan sleeping bag, tanpa tenda

 

Lebih indah dari yang saya kira

20160403_075117

Hargo Dumilah, puncak tertinggi Gunung Lawu

Karna belum pernah mendaki sampai puncak, saya belum tahu apa yang akan saya dapatkan di sana. Menurut bayangan saya, Gunung Lawu tak ubahnya seperti Merapi. Hanya ada batu dan batu. Ternyata saya salah, pemandangan di puncak dan menjelang puncak ternyata lebih indah dari yang saya kira. Setelah melewati pos 5, Gunung Lawu baru mau memamerkan keindahannya. Pemandangan padang rumput yang luas mulai menyambut perjalanan saya. Pohon-pohon bunga edelweis juga tampak menghiasi pemandangan menjelang puncak. Sayangnya, saya datang ketika bunga edelweis tidak sedang dalam musimnya sehingga saya hanya bisa melihat pohon dan daun dari flora yang sering dijuluki sebagai bunga abadi tersebut

Melanjutkan perjalanan ke sebuah tebing batu di sebelah barat Hargo Dumilah, saya mendapati pemandangan Gunung Merapi, Merbabu, Sindoro, Sumbing serta beberapa gunung lain yang tampak seperti di tengah-tengah laut. Dengan gumpalan awan putih sebagai gelombangnya. Terlihat sangat indah. Saya merasa amat beruntung karna diberikan fisik yang cukup kuat untuk bisa sampai ke puncak hari itu. Thanks God, you are my best giver

 

Turun

At base camp Cemoro Sewu

At base camp Cemoro Sewu

Sekitar jam setengah 11 pagi saya dan Mas Ajik mulai turun. Entah kenapa, perjalanan turun ini terasa lebih berat dan melelahkan bagi saya. Meski jika dikalsukasi, waktu tempuhnya terhitung lebih pendek. Sekitar 3 jam saja

Well, apapu itu, kemaren saya telah menjadi seorang pendaki sukses. Karna bisa sampai puncak dan kembali dengan selamat. Juga bertemu dengan teman-teman baru yang menyenangkan

loading...
The following two tabs change content below.
Sarjana teknik informatika yang tidak bisa coding. Suka naik gunung, membaca dan menulis

10 Responses to “Menahan Peluh dan Kantuk. Demi Gunung Lawu”

  1. Yuki Anggia Putri says:

    wah, perjalanannya seru banget, ya. saya sebenernya suka naik gunung, tapi udah lama banget gak naik. mesti mulai mendaki lagi nih. 🙂

  2. Dwi Mulyanto says:

    ini masnya yang kemaren ketemu di punca nih. duh sayang ga sempet foto bareng. btw udah dibikin cerita aja nih. keren mas *jempol*. semoga kapan-kapan bisa ketemu lagi hihi

  3. Ambar Wijayanti says:

    tahun kemaren gue ke sana sama temen kampus. cuma gara-gara penasan sama warung mbok yem yang lejen ituh hahaha

  4. Sita Nurlela says:

    denger-denger naik via Cemoro Sewu sekarang KTP nya ditanah yak? nggak bisa nyobain turun dari jalur deh jadinya

  5. Novela Yesi says:

    cerita ini membuatku kangen warungnya Mbok Yem 🙁

  6. Novika Aditiya says:

    Biasanya kalau via candi cetho berapa hari ya mas?

    • @novikaaditiya:disqus aku belum pernah via candi cetho sih hehe. tapi katanya bisa nyampe sehari buat perjalanan naiknya doang. soalnya itu paling panjang dibanding jalur lain

Leave a Reply