Menghapus Rasa Penasaran Akan Masjid Bawah Tanah Tamansari, Jogja

Bagi sebagian besar orang Indonesia, Jogja masih menjadi destinasi liburan yang menarik. Itu karna Jogja punya begitu banyak tempat menarik yang bisa dikunjungi. Baik yang bernuansa sejarah, alam maupun budaya. Dalam hal akomodasi, Jogja sendiri juga semakin ramah untuk wisatawan luar kota. Apalagi kini bandara baru, New Yogyakarta International Airport, juga sudah resmi beroperasi. Pilihan untuk bisa sampai ke Jogja jadi semakin banyak.

Akomodasi penginapan juga bukan sebuah masalah saat liburan di Jogja. Ada berbagai jenis penginapan yang bisa kamu pilih sesuai isi kantong. Dari hotel melati hingga hotel berbintang bisa didapatkan dengan cukup mudah. Jika kamu ingin menghabiskan waktu sedikit lebih lama di Jogja, apartment mungkin juga bisa menjadi pilihan yang cukup menarik. Bermodal smartphone, kamu bisa dengan mudah sewa apartemen Jogja via Traveloka atau aplikasi sejenis.

Jogja sendiri bukanlah kota yang asing bagi saya. Entah sudah berapa kali saya mengunjungi kota ini.

Ada satu tempat di Jogja yang cukup membuat saya penasaran yakni Masjid Bawah Tanah di Tamansari. Rasa penasaran itu akhirnya terhapuskan padah bulan Mei 2018 ketika saya mengunjungi Masjid Bawah Tanah Tamansari, bersamaan dengan agenda menyaksikan pameran seni Artjog.

Sebelum pada akhirnya benar-benar mengunjungi Masjid Nawah Tanah di Tamansari, saya hanya bisa membayangkan bentuk dari masjid itu melalui cerita-cerita dari teman-teman. Dalam bayangan saya, Masjid Bawah Tanah Tamansari tak ubahnya masjid-masjid pada umumnya, dengan kubah atau artitektur yang menandakan bahwa ini memang bangunan masjid. Saya membayangkan masjid ini ada di dalam sebuah ruangan bawah tanah, semacam gua, dengan sebuah bangunan utuh berupa masjid.

Ternyata tidak demikian. Jika tidak diberitahu oleh seorang warga yang kebetulan saya temui, mungkin saya tidak akan pernah tahu bahwa saya baru saja mengunjungi Masjid Bawah Tanah Tamansari.

Ya, Masjid Bawah Tanah Tamansari berada di sebuah kompleks perkampungan. Memang agak sulit membayangkan ruangan bawah tanah di tengah-tengah perkampungan. Tapi memang seperti itulah Masjid Bawah Tanah Tamansari.

Masyarakat lokal sendiri lebih sering menyebut Masjid Bawah Tanah di Tamansari ini dengan sebutan Masjid Pendem. Mungkin karna lokasinya yang berada di bawah tanah. Pendem dalam Bahasa Jawa artinya kubur. Jadi Masjid Pendem artinya kira-kira masjid yang terkubur.

Bentuk Masjid Pendem sendiri sama sekali tidak menyerupai masjid karna tidak ada kubah atau bangunan sejenis yang menandakan bahwa ini adalah masjid. Bentuknya berupa ruang melingkar yang terdiri atas dua lantai. Di bagian tengah ruangan ini terdapat sebuah hub yang menjadi penghubung antara lantai satu dan lantai dua. Hub inilah yang fotonya banyak kita temukan di internet.

Kamu tentu tidak asing dengan gambar di atas bukan? Saya pun demikian. Namun, saya beru ngeh bahwa foto di atas adalah bagian dari Masjid Pendem setelah mendatanginya sendiri.

Untuk sampai ke lokasi Masjid Bawah Tanah sendiri kita akan melewati sebuah lorong. Jika baru pertama kali datang ke Tamansari, mungkin akan sedikit kesulitan untuk mencari lokasi lorong ini. Jika mau, kita bisa menyewa jasa guide dari penduduk lokal untuk memandu sampai ke lokasi lorong. Bonusnya, kita akan akan tahu labih banyak tentang kompleks perkampungan di Tamansari dari pemaparan sang guide.

Terowongan menuju ke Masjid Pendem Tamansari

Terowongan pada gambar di atas merupakan satu-satunya akses menuju Masjid Bawah Tanah Tamansari. Jumlah akses keluar-masuk yang hanya ada satu ini bukannya tanpa maksud. Ini sebagai simbol bahwa manusia akan lahir dan kembali ke Tuhan Yang Maha Esa. Terowongan ini adalah bagian yang paling saya sukai dari kompleks Tamansari karna unik. Ia mengingatkan saya pada pintu-pintu di Lawang Sewu Semarang yang kalau dilihat dari satu ujung titik akan terlihat seperti terowongan.

Sebelum mencari lokasi terowongan menuju Masjid Bawah Tanah, kita bisa melihat-melihat keseluruhan kompleks Tamansari terlebih dahulu. Di antaranya, kita bisa melihat kolam pemandian yang dikelilingi oleh dinding-dinding tua dengan ornamen-ornamen khas keraton.

The following two tabs change content below.
Sarjana teknik informatika yang tidak bisa coding. Suka naik gunung, membaca dan menulis

Leave a Reply