Menjadi Anak-anak. Di Gunung Andong

Gunung Andong merupakan sebuah gunung yang sebenarnya tidak terlalu tinggi, namun tetap asik untuk didaki. Gunung mungil nan cantik ini berada di kabupaten Magelang, Jawa Tengah.

Jumat kemaren (13/3/2015) saya dan ketiga teman saya baru saja mendaki gunung Andong. Kita sengaja memilih hari Jum’at untuk menghindari Sabtu malam karna pendakian pada Sabtu malam akan sangat ramai. Sedangkan untuk hari Senin s/d Kamis jelas tidak bisa karna masing-masing punya kesibukan yang sulit ditinggalkan. So, Friday night is the best choice

Rencananya kita akan berangkat jam 18.30 (dari Solo), namun molor sampai jam 20.30. Beruntungnya, cuaca malam itu cukup cerah sehingga perjalanan tetap lancar. Jika berangkat dari Solo ada dua rute yang bisa dipilih untuk sampai ke base camp pendakian gunung Andong: via Keteb, Boyolali atau via Kopeng, Salatiga. Malam itu kita memilih lewat Kopeng. Rutenya kira-kira seperti ini

Solo –> Kopeng –> Pasar Ngablak –> Base Camp (desa Sawit)

IMG_3088

Pendakian gunung Andong sebenarnya bisa dilakukan melalui beberapa jalur. Namun kita lebih memilih jalur Sawit. Jalan untuk sampai ke base camp Sawit cukup mudah karna banyak terdapat rambu-rambu. Yang agak membingungkan mungkin ketika sudah sampai di pasar Ngablak. Setelah sampai ke pasar Ngablak maju saja sedikit lalu belok kanan di gang yang ada gapura warna biru. Setelahnya akan ada rambu-rambu yang mengarahkan ke bace camp

Sekitar pukul 22.15 kita tiba di base camp pendakian gunung Andong di desa Sawit, kecamatan Ngablak, Magelang. Setelah melakukan registrasi dan membayar retribusi kita langsung memulai pendakian

Pendakian malam itu kita mulai sekitar pukul 22.30

IMG_3197

Malam itu ternyata cukup banyak yang melakukan pendakian. Di camp registrasi terlihat beberapa rombongan pendaki yang sedang istirahat

Fyi aja, gunung Andong memiliki ketinggian 1726 mdpl sehingga waktu tempuh untuk sampai ke puncak tidak terlalu lama. Sekitar pukul 00.00 kita sudah sampai ke puncak. Namun, karna sebagian besar track pendakian memiliki kemiringan lebih dari 45 derajat, cukup untuk membuat kaki pegal. Saya sendiri sempat beberapa kali kena bully gara-gara ketinggialan di belakang 🙁

IMG_3220

Setelah sampai ke puncak kita langsung mencari spot terbaik untuk mendirikan tenda. Malam itu di puncak gunung Andong lumayan ramai. Ternyata di puncak gunung Andong ada dua buah warung. Tadinya saya pikir warung ini adalah tenda para pendaki. Setelah melihat gas LPG 3kg yang berada di dalam tenda plastik ini barulah saya sadar kalau tenda ini adalah warung

Setelah menemukan spot yang cukup datar, kitapun langsung membongkar ransel untuk mendirikan tenda. Setelah tenda berdiri saya langsung menyalakan kompor untuk membuat minuman hangat dan masak mie instan

Malam itu kita beruntung banget karna cuaca cukup cerah — setidaknya sampai jam 3-an. Sambil menikmati malam sembari nyruput minuman hangat, kita menghabiskan waktu dengan main kartu. Biar semakin seru, ada satu peraturan untuk melengkapi permainan: yang kalah tidak boleh makan cemilan haha

Malam itu benar-benar panjang. Keasikan main kartu sambil bercanda membuat kita lupa waktu. Tahu-tahu sudah jam 02.30. Sampai akhirnya gerimis tipis mulai turun sehingga kami memutuskan untuk masuk ke dalam tenda dan tidur

IMG-20150314-WA0036

Saya terbangun sekitar jam 6 pagi. Sholat subuh di dalam tenda lalu melihat sebentar ke sekeliling tenda. Kabut lumayan tebal hingga akhirnya saya memutuskan untuk tidur lagi

Baru sekitar jam 7 saya benar-benar bangun. Meski kabut masih sangat tebal saya memutuskan untuk keluar tenda dan menikmati pagi bersama para pendaki lain. Kabut yang tebal sesekali menjadi tipis tersapu angin. Sesekali pula terlihat gunung Merbabu yang berdiri gagah tepat di hadapan yang disambut teriakan histeris pada pendaki

WP_20150314_002

Baru sekitar pukul 8 kabut benar-benar pergi dan berganti dengan pemandangan yang sungguh luar biasa. Gunung Merbabu terlihat begitu gagah dari puncak gunung Andong. Sementara di kejauhan terlihat gunung-gunung lain seperti Merapi, Sumbing, Sindoro, Prau, Lawu dan Ungaran yang dipadu dengan hijaunya persawahan dan bebukitan. Lukisan alam di puncak gunung memang selalu membuat hati luluh. Saya — dan juga ketiga teman saya tentu saja — langsung mencari spot-spot terbaik untuk foto-foto

IMG_3170

Setelah puas menikmati pemandangan yang indahnya tak terkira itu, kita kembali ke tenda untuk bikin sarapan. Setelah perut terisi saatnya untuk menggila lagi. Setelah malamnya bermain kartu, paginya kita gantian nyanyi-nyanyi diirungi suara ukulele. Meski sumbang, namun kita menganggap bahwa suara kita adalah yang paling merdu sedunia. Lagu-lagu galau dari Didi Kempot sampai Iwan Fals kami bawakan dengan sangat percaya diri. Iya, percaya diri

Pagi itu saya benar-benar merasa menjadi anak-anak. Dan memang itulah tujuan saya setiap kali melakukan perjalanan liburan. Menjadi anak-anak: bebas, lepas

Thanks to: Agus, Fendi, Peje

Artikel ini ditulis oleh Aliko Sunawang. Seorang pemuda tanggung yang sering melepas kegalauan dengan jalan-jalan (kalau sedang ada ongkos). Penulis bisa disapa di Twitter @sunawang

Galeri foto puncak gunung Andong bisa dilihat disini

loading...

Leave a Reply