Disambut Kabut di Candi Ijo

Candi Ijo

Candi Ijo, kecuali mereka yang domisili di Jogja dan sekitarnya, mungkin tidak banyak yang tahu keberadaan candi ini. Mendengar namanya saja mungkin belum pernah.

Candi ini sejatinya merupakan salah satu candi yang istimewa di Jogja. Dalam hal lokasi, Candi Ijo merupakan candi tertinggi yang ada di Jogja. Lokasinya berada di atas bukit pada ketinggian 425 mdpl. Lebih tinggi dari Ratu Boko, Barong, serta Banyunibo yang juga berada di atas bukit

Melihat statusnya sebagai candi tertinggi di Jogja, candi ini mestinya menjadi pilihan utama para pemburu sunset berlatar belakang candi. Namun faktanya, candi ini masih kalah pamor dibandingkan Ratu Boko untuk urusan sunset. Tentu ada beberapa faktor yang membuat Candi Ijo belum terlalu populer. Salah satunya barangkali adalah perihal akses

Lokasi Candi Ijo yang berada di ketinggian membuat kendaraan harus sedikit bersusah payah untuk mencapainya. Kendaraan harus benar-benar dalam kondisi prima jika ingin sampai ke Candi Ijo. Jalanan sangat menanjak dan bergelombang. Lokasi Candi Ijo sendiri berada di Desa Sambirejo, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman, DIY

Beberapa waktu lalu saya berkunjung ke Candi Ijo bersama salah seorang teman. Sayang seribu sayang, saya datang pada waktu yang kurang tepat. Hujan baru saja reda ketika saya melanjutkan perjalanan ke Candi Ijo dari kawasan Babarsari. Waktu pun sudah menunjukkan pukul 4 sore lebih. Namun, karna sudah berada di tengah perjalanan, saya dan teman tetap melanjutkan perjalanan

Candi Ijo

Tangga menuju Candi Ijo

Sekitar setengah 5 sore kami tiba di lokasi Candi Ijo. Awalnya semua tampak normal. Candi Ijo masih terlihat dengan sangat jelas. Namun, beberapa menit memasuki area candi, kabut tiba-tiba datang dengan cukup masif. Candi Ijo pun tertutup kabut dalam waktu singkat. Seketika, suasana berubah menjadi sedikit mistis. Teman saya yang tadinya berniat melihat patung yang berada di dalam candi utama pun mengurungkan niat dan hanya melihat-lihat bagian luar candi

Bentuk fisik Candi Ijo sendiri ternyata cukup besar. Candi ini merupakan sebuah candi bercorak Hindu yang diperkirakan dibangun pada abad ke-10 sampai abad ke-11 pada jaman Kerajaan Medang di periode Mataram. Persis di depan candi utama terdapat dua buah candi pendamping atau biasa disebut candi pewara. Ketiga candi tersebut memiliki patung di dalamnya. Karna suasana yang mulai gelap dan berkabut (dan misitis), saya tak berani melihat isi patung pada candi utama. Seperti yang teman saya lakukan, saya hanya melihat-lihat bagian luar candi sambil sesekali mengambil gambar

Candi Ijo

Sebelum tertutup kabut

Seperti halnya candi-candi pada umumnya, lokasi Candi Ijo juga berada di kompleks taman yang tertata rapi. Rumput hijau tampak tumbuh dengan rapi di kompleks taman. Beberapa bunga juga tumbuh di beberapa sudut taman. Untuk masuk ke lokasi candi sendiri ternyata gratis. Oleh petugas, saya hanya diminta mengisi data diri serta keperluan berkunjung

Saya sangat yakin, saat cuaca sedang cerah, pemandangan senja di sekitar Candi Ijo ini tak kalah indah dibandingkan tempat lain di Jogja. Misalnya Ratu Boko. Mungkin butuh sedikit waktu untuk menunggu pesona Candi Ijo semakin diketahui oleh banyak orang

Selain memiliki pemandangan sunset yang istimewa ketika cuaca sedang cerah, lokasi Candi Ijo juga didukung oleh keberadaan tempat wisata lainnya. Sekitar 1 km sebelum sampai ke Candi Ijo kita akan melewati sebuah tempat yang dinamakan Tebing Breksi. Menurut keterangan yang ada di sekitar tebing, Tebing Breksi merupakan endapan vulkanik Candi Ijo. Saya kurang paham maksudnya. Mungkin dulunya bukit di sekitar Candi Ijo ini merupakan sebuah gunung berapi yang kini sudah pensiun

Dalam beberapa waktu ke depan, Candi Ijo dan juga Tebing Breksi ini mungkin akan menjadi salah satu tujuan wisata favorite di Kabupaten Sleman

The following two tabs change content below.

Rio Rizqiawan

God, family, Juventus and you ~ Fino Alla Fine Forza Juve

Leave a Reply