Pengalaman Pertama Mengunjungi Artjog

Jogja adalah kotanya para seniman. Setidaknya itulah yang dikatakan oleh Genk Kobra. Dan saya sangat setuju. Kalau tak percaya, datang saja saja ke Malioboro saat malam hari. Ada banyak sekali seniman jalanan yang menampilkan karya seni sekelas panggung festival.

Musik hanyalah satu contoh dari sekian banyak jenis karya seni yang akan banyak kita temukan di Jogja. Salah satu maestro lukis Indonesia, Affandi juga berasal dari Jogja yang museumnya dapat kita temukan persis di depan kampus UIN Sunan Kalijaga.

Ngomong-ngomong soal seni, Jogja punya satu agenda tahunan yang dinamakan Artjog.

“Artjog apaan sih?”

Begitulah kira-kira pertanyaan salah satu teman dari Jakarta bulan lalu ketika saya menyarankan dia untuk main ke Jogja pertengahan Mei saja karna Artjog tahun ini akan mulai diselenggarakan sejak tanggal 19 Mei. Sebulan penuh lamanya kita bisa menyaksikan karya-karya artistik dari para seniman tanah air.

Artjog 10

Artjog sendiri merupakan acara pameran seni tahunan di Jogja yang sudah diadakan sejak tahun 2008. To be honest, saya termasuk terlambat mengetahui keberadaan event tahunan ini. Saya baru tahu kalau ada event ini 4 tahun yang lalu dan baru kesampean untuk mengunjunginya tahun ini. Tahun lalu sebenarnya saya sudah sangat berniat untuk berkunjung. Tapi metode pembayaran yang mewajibkan menggunakan alat pembayaran elektronik salah bank tertentu membuat saya malas.

Tahun ini pun saya berkunjung ke Artjog tanpa tiket. Bukan, bukan karna saya dapat undangan atau semacamnya. Kebetulan untuk pembukaan Artjog tahun ini pengunjung boleh masuk secara gratis. Yah, meskipun harus mengantri dan berdesak-desakan seperti saat nonton konser, tak masalah. Anggap saja ini adalah salah satu cara menikmati hidup :)).

DSC_1835

Tiket masuk ke Artjog sebenarnya tidak terlalu mahal, Rp 50.000 saja. Nominal segitu cukup masuk akal jika melihat apa yang akan kita dapatkan.

Saya datang ke Artjog bersama dua orang teman. Namanya Akbar adan Ian. Kecuali si Ian, ini adalah pengalaman pertama bagi kami ke Artjog. Sama seperti tahun lalu, Artjog tahun ini juga diadakan di Jogja National Museum (sebelumnya di Taman Budaya). Menurut flyer yang saya baca, acara pembukaan akan berlangsung jam 7 malam. But, you must be know. Hampir jam 9 gerbang baru dibuka. Pengunjung sudah mengantri kegerahan, termasuk saya tentu saja. Tapi, demi menikmati karya seni-karya seni hebat di ruang galeri, it’s okay.

Ruang pameran di Jogja National Museum terdiri atas tiga lantai. Karna banyaknya pengunjung, ruangan yang sejatinya ber-AC itu terasa panasa sekali. Saya dan kedua teman sempat melakukan blunder yang membuat kami harus mengantri lagi di gate.

DSC_1830

Ceritanya begini. Ruang pameran utama ada gedung paling depan — yang terdiri atas tiga lantai. Karna ramai banget kami ngeloyor saja, melewati lorong menuju stand-stand yang berada di bangunan sebelahnya. “Masih rame, nanti aja lah”. Kata saya ke Akbar dan Ian.

Rupanya, panitia menerapkan aturan bahwa pengunjung yang sudah melewati lorong dan tiba di area stand tidak boleh kembali lagi ke ruang galeri, kecuali untuk tamu VIP. Boleh kembali, sih. Tapi harus dengan mengantri ulang. Dan itulah yang kami lakukan. Rugi dong sudah sampai ke sini tapi tidak bisa melihat objek utamanya. Untunglah, ketika kami kembali mengantri, antrian sudah tak sepadat sebelumnya.

Setelah kembali berhasil masuk ke galeri, saya langsung melakukan apa yang seharusnya saya lakukan sejak tadi. Memasang mata, berjalan lebih pelan. Menikmati karya-karya artistik dari seniman-seniman hebat tanah air.

DSC_1815

Adapun karya seni yang dipamerkan di Artjog ini adalah seni-seni kontemporer dalam berbagai medium. Mulai dari seni lukis, seni ukir hingga instalasi yang membutuhkan kerja keras untuk memahaminya. Well, tak sekeras itu juga karna setiap karya seni telah disertakan informasi singkat tentang maksud dari seni yang bersangkutan. Serta pembuatnya, tentu saja.

Tapi, seperti kata Akbar, seni itu universal. Setiap individu punya interpretasi masing-masing soal seni. Soal seni saya memang cuma ikan teri di Samudra Hindia. Saya tak punya latar belakang seni sama sekali. Tapi saya sangat setuju dengan statement itu. Karna seni itu bukan ilmu pasti, bahwa satu ditambah satu hasilnya pasti dua.

Di Artjog 2017 ini juga ada panggung untuk live performance. Jadwal hariannya bisa dilihat di akun Twitter resmi Artjog. Malam itu saya beruntung sekali karna pembukaan Artjog dimeriahkan oleh Tompi. Terakhir kali nonton Tompi adalah di Solo City Jazz tahun lalu. Ketika saya tiba kembali di depan panggung — yang berada di depan area stand — Tompi sedang membawakan Selalu Denganmu.

DSC_1881

Saya sudah membuat sebuah album di Flickr, hasil dari kunjungan pembukaan Artjog 10. Banyak sekali foto yang saya ambil dan saya cukup kesulitan untuk memilih mana yang harus saya upload. Jika penasaran dengan karya seni-karya seni yang dipamerkan di Artjog 10 silakan lihat di album Flickr yang saya buat. Tidak harus berkunjung ke halaman Flickr. Di halaman ini juga bisa dengan menekan anak panah pada foto kedua di atas.

loading...
The following two tabs change content below.
Sarjana teknik informatika yang tidak bisa coding. Suka naik gunung, membaca dan menulis